Teori Lokasi

Gambar

MAKALAH

Teori Lingkaran Von Thunen

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Teori Lokasi
yang dibimbing oleh M. Makhrus, S.E.

Disusun Oleh:
UMIATI
431492010110004

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) PANDU MADANIA
Jl. Raya Cibungbulang Km. 15 Bogor 16630
Oktober 2011

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR
  

 Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan kesadaran,karena penyusun dapat menyelesaikan dapat menyelesaikan makalah ini pada waktu yang telah di tentukan dan makalah ini sebagai salah satu tugas matakuliah Teori Lokasi yang berjudul “Teori Lingkaran Von Thune”
    Judul ini dipilih karena penyusun sangat tertarik dengan masalah pengalokasian suatu wilayah dalam perekonian  yang ada di Indonesia.
    Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna,sehingga penyusun mengharap kritik dan saran dari pembaca agar pembuatan makalah selanjutnya menjadi lebih baik.
    Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam proses pembuatan makalah ini,sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bogor, Oktober 2011
                                                                                              Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR……………………………………………………..……..       i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….…..     ii
BAB I    PENDAHULUAN……………………………………………………..…..     1
1.1    Latar Belakang…………………………………………….…………………     1
1.2    Rumusan Masalah…………………………………………………………….    1
1.3    Tujuan Bembahasan…………………………………….…………………..     1
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………    2
2.1    Dasar Pemikiran Teori Von Thunen………………………………………
2.2    Teori Lokasi Von Thunen…………………………………………………
2.3    Implikasi Teori Von Thunen………………………………………………
2.4    Relevansi Model Von Thunen……………………………………………..
2.5    Asumsi Von Thunen……………………………………………………….
2.6    Kelebihan Teori Von Thunen……………………………………………..
2.7    Kelemahan Teori Von Thunen……………………………………………………………
2.8    Faktor yang bisa mempengaruhi komposisi keruangan selain biaya
Transport……………………………………………………………………
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………….    
3.1    Kesimpulan………………………………………………………………………………….     12
3.2    Saran…………………………………………………………………………………………..     13
DAFTAR PUSTKA……………………………………………………………………………….     14

 

 

 

 

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Johann Heinrich von Thunen merupakan seorang ekonom yang menjanjikan pada abad ke-19. Von Thunen adalah seorang tuan tanah asal Mecklenburg (sebelah utara Jerman) yang merupakan pionir teori pemanfaatan tanah. Dalam buku karangannya yang berjudul Der Isolierte Staat in Beziehug suf Land Wirtshaft (1826) yang kemudian dialihbahasakan oleh Peter Hall menjadi The Isolated State to Agriculture (1966), beliau mengembangkan rumusan pertama mengenai teori ekonomi keruangan yang kemudian dihubungkan dengan teori sewa (rent).
Von Thunen mengidentifikasi perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan atas dasar perbedaan sewa lahan. Beliau menyatakan bahwa semakin dekat dengan pusat, maka harga sewa tanah akan semakin mahal, dan semakin jauh jarak dari pusat, harga sewa tanah akan semakin rendah.

1.2    Rumusan Masalah
a)    Apa dasar-dasar dari teori Von Thunen ?
b)    Bagaimana model Von Thunen ?
c)    Apa asumsi dari Von Thunen ?

1.3    Tujuan Pembahasan
a)    Untuk mengetahui dasar-dasar dari teori Von Thunen.
b)    Untuk mengetahui model Von Thunen.
c)    Untuk mengetahui asumsi dari teori Von Thunen.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Dasar Pemikiran Teori Von Thunen
J.H Von Thunen adalah seorang ahli dalam ekonomi pertanian yang berasal dari Jerman pada tahun 1826-1850 dan merupakan orang pertama yang membuat model analitik dasar dari hubungan antara pasar, produksi, dan jarak. Teori Von Thunen lebih di kenal sebagai teori lokasi pertanian, ia berpendapat bahwa pertanian merupakan komoditi yang cukup besar di perkotaan. Pertanian merupakan proses pengolahan lahan yang di tanami dengan tanaman tertentu untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pada zaman itu banyak area pertanian yang terletak di wilayah yang tidak strategis. Petani yang berada di lokasi jauh dari pusat pasar atau kota, harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk menjual hasil panennya. Maka dari itulah Von Thunen mengeluarkan teori mengenai lokasi pertanian.
2.2    Teori Lokasi Von Thunen
Von Thunen mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatan di daerah tempat tinggalnya, ia menggambarkan bahwa perbedaan ongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi ke pasar terdekat mempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah. Teori ini memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan pasar, pola tersebut memasukkan variable keawetan, berat, dan harga dari berbagai komoditas pertanian.
2.3    Implikasi Teori Von Thunen
Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.
Von Thunen secara umum mengemukakan bahwa pada pusat kota lahan difungsikan sebagai commercial center, dimana menjadi CBD (Central Bussines District) dari lahan tersebut, sebagai pusat perdagangan barang dan jasa. Kemudian diikuti lingkaran terluarnya sebagai manufacturing place, yaitu tempat segala industri. Lingkaran terluar menjadi residence place, tempat dilokasikannya pemukiman. Diagram cincin Von Thunen tersebut biasa dikenal dengan istilah “Model Zona Sepusat”.
Pada perkembangannya, muncul teori-teori yang menanggapi model cincin Von Thunen tersebut, yaitu ketiga teori dasar pola penyebaran guna lahan kota:
a)    Teori Konsentris (Burgess)
Gambar 1: Teori Konsentris (Burgess)
Dimana kota meluas secara merata dari suatu inti asli atau CBD (Central Bussiness District), sehingga tumbuh zona yang masing-masing sejajar secara simultan dan mencerminkan penggunaan lahan yang berbeda.
b)    Teori Sektoral (Homer Hoyt)

Gambar 2 : Teori Sektoral (homer Hoyt)
Dimana pengelompokan tata guna lahan menyebar dari pusat kea rah luar berupa sektor (wedges) akibat dari kondisi geografis dan mengikuti jaringan transportasi. Dimungkinkan tata guna lahan yang bercampur (mixed use) di tiap sektor.
c)    Teori Multiple Nuclei (Harris Ullman)

Gambar 3 : Teori Multiple Nuclei (Harris Ullman)
Dimana pertumbuhan kota bermulai dari satu pusat (inti) menjadi kompleks oleh munculnya kutub-kutub pertumbuhan baru. Di sekeliling pusat-pusat (nucleus) baru itu akan mengelompok tata guna lahan yang berhubungan secara fungsional.
Perkembangan pola penyebaran guna lahan tersebut diantaranya disebabkan oleh urbanisasi dan perkembangan akses yang kemudian memperluas distribusi fungsi lahan perkotaan itu sendiri. Hal tersebut akan menyebabkan munculnya zona-zona lahan sesuai fungsi atau tata guna lahannya, serta akan menyebabkan munculnya struktur ruang kota tertentu berdasarkan zona lahan tersebut. Oleh karena itulah teori Von Thunen juga menjadi dasar sekaligus stimulus munculnya teori-teori lain mengenai perkembangan pola penyebaran, sebagai implikasi terhadap zona lahan dan struktur keruangan kota.
2.4    Relevansi Model Von Thunen
Menurut pendapat teori yang dikemukakan oleh Von Thunen masih ada yang relevan dengan kondisi saat ini dan ada juga yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini (untuk kasus-kasus tertentu).
a)    Teori Von Thunen yang masih Relevan dengan Kondisi Sekarang
Teori ini dapat di contohkan yaitu seperti kelangkaan persediaan sumber daya lahan di daerah perkotaan memicu berlakunya hukum ekonomi supply and demand semakin langka barang di satu pihak semakin meningkat permintaan di pihak lain akibatnya harga melambung. Demikian yang terjadi terhadap lahan yang ada di daerah perkotaan, dimana nilai sewa atau beli lahan yang letaknya dipusat kegiatan, semakin dekat ke pusat semakin tinggi nilai sewa atau beli lahan tersebut. Kelangkaan lahan di kota-kota besar seperti untuk pertokoan misalnya, banyak sekali toko – toko yang terletak di pusat kota biaya sewa atau beli tanahnya lebih mahal dari biaya sewa atau beli rumah yang jauh dari pusat perkotaan, bahkan harganya selalau naik, mengikuti perkembangan yang terjadi dari tahun ketahunnya.
 Ini mengindikasikan bahwa teori Von Thunen tentang alokasi lahan untuk kegiatan pertanian juga berlaku di daerah perkotaan. Selain itu teori Von Thunen juga masih berlaku untuk wilayah pertanian yang jauh dari kota dimana akses prasarana jalan yang kurang mendukung dan pasar masih bersifat tradisional. Ini banyak terjadi di wilayah perdesaan daerah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dimana wilayah pertanian sangat terisolir sehingga teori sewa lokasi Von Thunen ini masih sangat relevan.
b)    Teori Von Thunen Kurang Relevan dengan Kondisi Sekarang.
Berikut adalah Teori Model Von Thunen :Johann Heinrich Von Thunen adalah orang yang pertama kali mengemukakan teori ekonomi lokasi modern. Lahir pada tanggal 24 Juni 1783, Von Thunen mengenyam pendidikan di Gottingen dan sebagian besar menghabiskan waktu hidupnya mengelola daerah pinggiran di Tellow.
Pada volume pertama risalatnya, The Isolated State (1826), Von Thunen menjabarkan mengenai ekonomi keruangan (spatial economics), yang menghubungkan teori ini dengan teori sewa (theory of rent). Von Thunen adalah orang pertama yang membuat model analitik dasar dari hubungan antara pasar, produksi, dan jarak. Dalam menjelaskan teorinya ini, Von Thunen menggunakan tanah pertanian sebagai contoh kasusnya. Dia menggambarkan bahwa perbedaan ongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi ke pasar terdekat mempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah.

Gambar 4 : Ilustrasi Teori Von Thunen

Gambar Model Von Thunen di atas menjelaskan bahwa  “isolated area” yang terdiri dari dataran yang “teratur”, kedua adalah, kondisi yang “telah dimodifikasi” (terdapat sungai yang dapat dilayari). Semua penggunaan tanah pertanian memaksimalkan produktifitasnya masing-masing, dimana dalam kasus ini bergantung pada lokasi dari pasar (pusat kota).
Model Von Thunen membandingkan hubungan antara biaya produksi, harga pasar dan biaya transportasi. Kewajiban petani adalah memaksimalkan keuntungan yang didapat dari harga pasar dikurang biaya transportasi dan biaya produksi. Aktivitas yang paling produktif seperti berkebun dan produksi susu sapi, atau aktivitas yang memiliki biaya transportasi tinggi seperti kayu bakar, lokasinya dekat dengan pasar.
Dalam teori von Thunen ini, terdapat beberapa asumsi yang sudah tidak relevan lagi, diantaranya adalah:
a)    Jumlah Pasar
Di Indonesia pada umumnya tidak hanya terdapat satu market center, tetapi dua atau lebih pusat dimana petani dapat menjual komoditinya.
b)    Topografis
Kondisi topografi dan kesuburan tanah tidak selalu sama, pada dasarnya kondisi ini selalu berbeda untuk tiap-tiap wilayah pertanian. Jadi untuk hasil pertanian yang akan diperoleh juga akan berbeda pula.
c)    Biaya Transportasi
Keseragaman biaya transportasi ke segala arah dari pusat kota yang sudah tidak relevan lagi, karena tergantung dengan jarak pemasaran dan bahan baku, dengan kata lain tergantung dengan biaya transportasi itu sendiri (baik transportasi bahan baku dan distribusi barang).
d)    Petani tidak semata-mata ‘profit maximization’
Petani yang berdiam dekat dengan daerah perkotaan mempunyai alternatif komoditas pertanian yang lebih banyak untuk diusahakan. Sedangkan petani yang jauh dari perkotaan mempunyai pilihan lebih terbatas.
Teori Von Thunen ini dapat digunakan sebagai dasar pendekatan pengembangan wilayah kawasan perbatasan, khususnya melalui pengembangan transportasi. Wilayah kawasan perbatasan di Indonesia umumnya merupakan wilayah yang memiliki jarak paling jauh dari pusat kota dan berfungsi sebagai penyedia bahan baku. Berdasarkan teori ini, kegiatan ekonomi/produksi yang paling cocok untuk wilayah ini adalah kegiatan ekonomi/produksi komoditas yang paling efisien (dihitung menurut besaran biaya produksi dan biaya transportasi) jika berada di dekat penyedia bahan baku dan jauh dari market (pusat kota).
 Contohnya seperti kegiatan produksi komoditas ekstraktif (barang tambang) dan peternakan. Pengembangan transportasi untuk mendukung kegiatan ekonomi/produksi ini adalah dengan membangun infrastruktur transportasi yang menghubungkan antara penyedia bahan baku dengan market (pusat kota).
2.5    Asumsi Von Thunen

Gambar 5 : Pola penggiunaan tanah dengan diagram cincin
Selain itu model Von Thunen mengenai tanah pertanian ini dibuat sebelum era industrialisasi. Dalam uji laboratoriumnya, Von Thunen mengeluarkan 6 asumsinya :
a)    Isolated stated, terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan dengan daerah pedalamannya dan merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian.
b)     Single market, daerah perkotaan tersebut merupakan daerah penjualan kelebihan produksi daerah pedalaman dan tidak menerima penjualan hasil pertanian dari daerah lain.
c)     Single destination, daerah pedalaman tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah lain kecuali ke daerah perkotaan. Daerah pedalaman merupakan daerah berciri sama (homogenous) dan cocok untuk tanaman dan peternakan dalam menengah.
d)    Maximum oriented, daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum dan mampu untuk menyesuaiakan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang terdapat di daerah perkotaan.
e)    One moda transportation, satu-satunya angkutan yang terdapat pada waktu itu adalah angkutan darat berupa gerobagk yang dihela oleh kuda.
f)    Equidistant, biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. Petani mengangkut semua hasil dalam bentuk segar.

2.6    Kelebihan Teori Von Thunen
Ada beberapa kelemahan teori Von Thunen yaitu :
a)    Merupakan model keseimbangan yang sifatnya parsial, tidak memuat interelasi antara variabel yang telah di khususkan, perhitungan akan susah dilakukan bila terjadi perubahan di masa mendatang;
b)    Tidak memperhatikan faktor non ekonomis yang mempengaruhi produksi;
c)    Tidak memperhitungkan perbedaan luas perusahaan pertanian atau luas pasaran yang tak menghasilkan ekonomi berskala produksi atau pasaran yang bersangkutan sehingga dapat merusak zona tata guna lahan.

2.7    Kelemahan Teori Von Thunen
a)    Keterkaitannya pada waktu;
b)    Keterkaitannya pada wilayah karena:
    Kemajuan di bidang transportasi telah menghemat banyak waktu dan uang (mengurangi resiko busuk komoditi);
    Adanya berbagai bentuk pengawetan, memungkinkan pengiriman jarak jauh tanpa resiko busuk;
    Negara industri mampu membentuk kelompok produksi sehingga tidak terpengaruh pada kota;
    Antara produksi dan konsumsi telah terbentuk usaha bersama menyangkut pemasaran (tidak selalu memanfaatkan jasa kota dalam pemasarannya).

2.8    Faktor yang Mempengaruhi Komposisi Keruangan Selain Biaya Transport
a)    Prasarana jalan yang baik dan kemudahan akses ke pasar kota menjadi faktor penentu komposisi keruangan;
b)    Mekanisme pasar yang terbuka hingga menimbulkan terjadinya supply dan demand, memungkinkan terjadinya economic landscape sebagai faktor penting mempengaruhi komposisi keruangan;
c)    Adanya lokasi alternatif juga bisa berpengaruh pada komposisi keruangan;
d)    Skala produksi: biaya/unit vs jumlah produk; localisation economies dan urbanisation economies;e. Lingkungan bisnis: kebijakan pemerintah, lokasi pesaing, dsb;
e)    Faktor Kesejarahan.

BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Inti dari teori Von Thunen adalah bahwa sewa suatu lahan akan berbeda-beda nilainya tergantung tata guna lahannya. Lahan yang berada di dekat pusat pasar atau kota tentunya lebih mahal di bandingkan lahan yang jauh dari pusat pasar. Karena jarak yang makin jauh dari pusat pasar, akan meningkatkan biaya transportasi. Semua kegiatan yang selalu perpusat pada kota menjadikan kota memiliki tata guna lahan yang menggiurkan untuk mendapat keuntungan bagi petani, investor, pedagang, dan lain sebagainya. Hal ini terbukti saat ini kota di penuhi pemandangan banyak bermunculan bangunan pertokoan, mall, industri besar, industi kecil, perkantoran, dan pemukiman penduduk. Berbeda dengan desa, infrastruktur yang di miliki desa masih jauh dari skala kota.
Peran kota sebagai pusat kegiatan berbagai sektor mengakibatkan harga lahan di wilayah ini relatif cukup tinggi. Jumlah penduduk di kota yang skalanya lebih besar daripada desa menarik perhatian petani untuk menjual hasil pertaniannya. Mengingat di kota sangat jarang ditemukan lahan pertanian, pasti harga hasil pertanian yang mereka bawa akan bernilai tinggi. Karena semakin langka barang yang disertai makin tingginya permintaan akan mengakibatkan meningkatnya harga barang tersebut. Pelaku produksi juga harus peka terhadap permintaan pasar.

3.2    Saran
Teori tata guna lahan Von Thunen tidak dapat sepenuhnya diterapkan saat ini. Di zaman modern seperti sekarang, jasa angkutan telah menjamur dan berlomba-lomba menawarkan harga murah. Masalah biaya angkut dirasa sudah tidak membebani pelaku produksi yang berasal dari daerah desa. Akan tetapi, perbedaan sewa lahan tetap tinggi di wilayah kota. Oleh Karena itu pemerintah harus lebih memperhadikan kondisi masyarakan ataupun wilayah Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http:// afifhidayat.wordpress.com/2009/02/11/teori-dasar-pemanfaatan/html
http://indrajayaadriand.wordpress.com/2008/10/24/tugas-7-bu-bitta-teori-lokasi-dan-pola-ruang/html
http:www.scribd.com/doc/39129933/relevans-teori-lokasi-von-thunen/html
http://elinpike.blogspot.com/2011/09/implikasi-teorivon-thunen-pada-zona.html
http://ayyasarisha.blogspot.com/2011/implikasi-teori-von-thunen-pada-zona.html
http://elinpike.wordpress.com/2011/02/21/teori-lokasi-von-thunen/html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s